Banyak remaja lebih suka curhat sama temen deketnya ketimbang sama orang tua mereka, penyebabnya curhat sama ortu dianggap tidak nyaman dan tidak aman. Ketika baru mau curhat sudah kebayang ortu bilang..ga boleh begini..ga boleh begitu,
Dari segi bahasa, mereka juga terkesan menggurui, nggak pakai bahasa gaul n cool alias bahasa yang gampang diterima anak muda, jadi anak merasa jadi tertuduh atau tersangka. Oleh sebab itu remaja kebanyakan mencari saluran yang lebih aman, nyaman, dan tidak mengganggu kondisi mereka, akhirnya mereka lebih memilih teman sebaya ditambah lagi masa remaja biasanya jadi masa anak menarik diri dari keluarga mereka lebih percaya pada kelompok sebayanya (peer group).
Tapi…..bukan berarti orang tua tidak bias jadi tempat curhat yang asyik. Asal ortu bias menempatkan diri mereka sebagai remaja, anak bakal merasa nyaman buat curhat, toh orang tua kan juga pernah muda juga. Beliau bisa memanfaatkan masa mudanya dulu buat ngobrol sama putra mereka.
Sebetulnya kunci semua ini ada pada pola asuh dalam keluarganya, pola aasuh ini menjadi semacam pondasi dasar, kalau dari kecil anak tidak pernah diajak ngomong, orang tua sibuk dengan kerjaannya, ya anak akan cenderung enggan dan malas untuk bercerita. Tapi kebanyakan orang tua tidak melibatkan anak-anaknya dalam pembicaraan keluarga dengan alas an mereka masih kecil, padahal sebetulnya curhat lebih aman dengan orang tua, segudang masalah yang menimpa anak, orang tua pasti jadi tempat terbaik untuk kembali..seperti dalam pepatah sebuas-buasnya harimau, dia tidak akan memakan anaknya sendiri.
Memang, kesenjangan antara masa lalu dan masa kini kadang jadi kendala berkomunikasi antara anak dan orangtua, makanya biar lebih nyambung lagi sebaiknya orang tua rajin-rajin mengikuti perkembangan jaman. Kalau tidak bisa mengikuti perkembangan jaman, ya jadilah pendengar yang baik.